Pesantren Modern Mr.Bob – Satu pohon, banyak makna. Pohon bidara dalam Islam disebut dalam Al-Qur’an maupun hadis, dan banyak muslim mengenalnya lewat daunnya yang dipakai untuk memandikan jenazah, padahal kisahnya jauh lebih luas dari itu. Mari kita telusuri bersama dengan dalil yang jelas.
Mengenal Pohon Bidara dan Ciri-cirinya
Bidara bukan pohon sembarangan. Tanaman berduri yang tumbuh di daerah kering ini dikenal dengan nama ilmiah Ziziphus spina-christi, berbuah kecil bulat, dan daunnya hijau sepanjang tahun sehingga sering menjadi tempat berteduh di tanah gersang. Al-Qur’an menyebutnya dengan gambaran yang jauh lebih indah.
Ayat 28:
فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ
Fii sidrin makhdhuud.
Artinya: (Mereka berada) di antara pohon bidara yang tidak berduri. (QS. Al-Waqi’ah: 28)
Ayat 29:
وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ
Wa thalhin mandhuud.
Artinya: Dan pohon pisang yang buahnya tersusun rapi bertumpuk-tumpuk. (QS. Al-Waqi’ah: 29)
Ayat 30:
وَظِلٍّ مَمْدُودٍ
Wa zhillin mamduud.
Artinya: Dan naungan yang terbentang luas. (QS. Al-Waqi’ah: 30)
Pohon bidara dalam Islam tidak berhenti pada ciri fisiknya. Para ulama tafsir memahami sidr makhdhud sebagai bidara yang tidak berduri, sehingga pohon yang di dunia berduri itu digambarkan lembut tanpa duri bagi penghuni surga. Rincian tafsirnya dapat kamu telaah dalam kitab tafsir.
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam yang Perlu Dipahami dengan Benar
Penyebutan Pohon Bidara dalam Al-Qur’an
Pohon ini punya nama khusus di alam atas. Al-Qur’an menyebut Sidratulmuntaha dalam Surah An-Najm ketika menceritakan perjumpaan Nabi dengan Jibril, dan penyebutan itu membuat pohon bidara dalam Islam memiliki tempat istimewa dalam keyakinan kita. Ayat-ayatnya kita baca satu per satu.
Ayat 13:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Wa laqad ra’aahu nazlatan ukhraa.
Artinya: Sungguh, dia (Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain. (QS. An-Najm: 13)
Ayat 14:
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
‘Inda sidratil-muntahaa.
Artinya: (Yaitu) di Sidratulmuntaha. (QS. An-Najm: 14)
Ayat 15:
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
‘Indahaa jannatul-ma’waa.
Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (QS. An-Najm: 15)
Ayat 16:
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
Idz yaghsyas-sidrata maa yaghsyaa.
Artinya: (Dia melihatnya) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (QS. An-Najm: 16)
Perhatikan kata sidrah. Para ulama menjelaskan bahwa Sidratulmuntaha adalah tempat di alam atas yang hakikat bentuknya termasuk perkara gaib, sehingga kita tidak perlu membayangkannya secara terperinci. Cukuplah kita mengimaninya sebagaimana kabar dari wahyu.
Kedudukan Pohon Bidara dalam Islam Menurut Hadis
Hadis memberi tempat yang sangat praktis bagi bidara. Dalam kisah seorang sahabat yang wafat saat berihram, Rasulullah memerintahkan agar jenazahnya dimandikan dengan air dan daun bidara, sehingga kedudukan pohon bidara dalam Islam tampak jelas pada urusan bersuci. Bacalah teksnya dengan saksama.
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
Ighsiluuhu bimaa’in wa sidr, wa kaffinuuhu fii tsaubaihi, wa laa tukhammiruu ra’sahu, fa innallaaha yab’atsuhu yaumal-qiyaamati mulabbiyaa.
Artinya: Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dengan dua pakaiannya, dan jangan tutup kepalanya, karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, No. 1266
Hadis ini berkaitan dengan orang yang wafat dalam keadaan berihram. Para ulama mengambil pelajaran bahwa daun bidara termasuk bahan yang dianjurkan dalam memandikan jenazah, sementara ketentuan tentang kepala yang tidak ditutup dan pakaian ihram dibahas dengan pendapat yang berbeda-beda. Lalu bagaimana dengan jenazah pada umumnya?
Penggunaan Daun Bidara untuk Memandikan Jenazah
Hadis kedua lebih umum cakupannya. Ummu Athiyyah radhiyallahu anha meriwayatkan arahan Rasulullah ketika putri beliau wafat, dan arahan itu menyebut air serta daun bidara sebagai bahan memandikan jenazah. Berikut teksnya.
اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ
Ighsilnahaa tsalaatsan aw khamsan aw aktsara min dzaalika in ra’aitunna dzaalika bimaa’in wa sidr, waj’alna fil-aakhirati kaafuuran aw syai’an min kaafuur.
Artinya: Mandikanlah dia tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu, dengan air dan daun bidara, dan jadikan pada basuhan terakhir kapur barus atau sedikit dari kapur barus.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, No. 1253
Para ulama menjadikan hadis ini dasar anjuran memakai daun bidara. Dengan begitu pohon bidara dalam Islam dikenal sebagai bagian dari adab merawat jenazah, dan cara pemakaiannya, misalnya pada basuhan yang mana, memiliki rincian yang berbeda antarmazhab. Tanyakan kepada ustadz untuk tata caranya.
Kisah Malaikat Jibril Mengajarkan Cara Memandikan Jenazah dengan Bidara
Kisah ini sering diceritakan. Sebagian orang menyebut Malaikat Jibril mengajarkan cara memandikan jenazah dengan bidara, sedangkan riwayat yang dapat kami telusuri menyebut para malaikat memandikan Nabi Adam alaihissalam dengan air dan daun bidara (makna hadits, lafadz lengkap dapat merujuk ke kitab aslinya). Penilaian ulama terhadap riwayat itu tidak seragam (perlu verifikasi lebih lanjut).
Lalu apa pegangan kita? Pegangan yang kokoh adalah dua hadis shahih di atas, yaitu riwayat Ibnu Abbas dan Ummu Athiyyah, sehingga amalan memakai daun bidara tidak bergantung pada cerita yang kedudukannya diperselisihkan, dan inilah cara bijak memahami pohon bidara dalam Islam. Kita lanjut ke manfaatnya.
Manfaat Pohon Bidara dalam Kehidupan Sehari-hari
Manfaatnya tidak sedikit. Bidara tumbuh di daerah kering, memberi naungan, dan buahnya yang kecil dapat dimakan, sehingga pohon bidara dalam Islam bukan hanya soal ritual tetapi juga nikmat yang dirasakan banyak makhluk. Al-Qur’an mengingatkan bahwa tumbuhan adalah tanda bagi orang yang berpikir.
يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Yunbitu lakum bihiz-zar’a waz-zaituuna wan-nakhiila wal-a’naaba wa min kullits-tsamaraat, inna fii dzaalika la aayatan liqaumin yatafakkaruun.
Artinya: Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untukmu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. (QS. An-Nahl: 11)
Sebagian masyarakat memanfaatkan daun bidara secara tradisional untuk membersihkan rambut dan tubuh, dan ada pula yang mengolah buah serta madu dari bunganya. Klaim khasiat kesehatan tertentu perlu dirujuk kepada tenaga ahli, sehingga kita tidak menyimpulkannya sebagai ketentuan agama. Bersyukur atas nikmat tumbuhan lebih penting daripada sekadar mencari khasiat.
Nilai Spiritual di Balik Pohon Bidara bagi Umat Islam
Bidara mengajarkan makna yang dalam. Dengan menyebutkannya dalam rangkaian ayat tentang peristiwa agung, pohon bidara dalam Islam mengingatkan kita bahwa tumbuhan sederhana pun dapat menjadi pengingat kebesaran Allah, sebagaimana Nabi melihat sebagian tanda-tanda-Nya yang paling besar. Mari kita baca ayatnya.
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Laqad ra’aa min aayaati rabbihil-kubraa.
Artinya: Sungguh, dia (Muhammad) benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 18)
Sidratulmuntaha mengingatkan batas ilmu manusia. Sementara itu, daun bidara di tangan kita mengingatkan bahwa kehidupan berujung pada akhirat, sehingga merenungi pohon bidara dalam Islam membuat kita lebih rendah hati dan siap bertemu Allah. Semoga renungan ini menumbuhkan syukur.
Doa Menanam Tanaman yang Diajarkan agar Tumbuh Berkah dan Bermanfaat
Kesimpulan
Bidara adalah pohon yang sederhana namun penuh makna. Pohon bidara dalam Islam disebut dalam Surah Al-Waqi’ah dan An-Najm, sedangkan hadis Ibnu Abbas serta Ummu Athiyyah menjelaskan penggunaannya untuk memandikan jenazah. Kita belajar mengambil dalil dengan hati-hati.
Langkah berikutnya ada padamu. Jika ingin mendalami tata cara memandikan jenazah, belajarlah langsung kepada ustadz dan rujuklah kitab fiqih mazhab yang kamu ikuti, sambil menjaga kejujuran dalam menukil cerita. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang gemar merenungi ciptaan-Nya.
langsung jelajahi artikel lainnya di website Pesantren Modern Mr.BOB. Biar makin
up-to-date, follow Instagram dan TikTok kami. Dan kalau ada yang mau dikonsultasikan, tinggal
hubungi WhatsApp kapan aja.
FAQ
Apakah pohon bidara disebut dalam Al-Qur’an?
Ya, bidara disebut dalam QS. Al-Waqi’ah: 28 dan Sidratulmuntaha disebut dalam QS. An-Najm: 14. Para ulama tafsir menjelaskan maknanya secara rinci. Silakan telaah lebih lanjut di kitab tafsir.
Apa dalil memandikan jenazah dengan daun bidara?
Dalilnya adalah hadis Ummu Athiyyah riwayat Al-Bukhari No. 1253 dan Muslim No. 939 yang menyebut air dan daun bidara. Ada pula hadis Ibnu Abbas tentang orang yang wafat dalam ihram. Cek langsung di kitab aslinya untuk memastikan.
Benarkah Malaikat Jibril mengajarkan cara memandikan jenazah dengan bidara?
Sepanjang pengetahuan kami, belum ada hadis shahih yang kami pastikan menyebutkannya secara tegas. Ada riwayat tentang malaikat memandikan Nabi Adam yang dinilai berbeda oleh ulama. Pegangan utama kita adalah hadis Bukhari dan Muslim.
Apakah daun bidara wajib dipakai saat memandikan jenazah?
Para ulama umumnya menganjurkannya berdasarkan hadis yang menyebut daun bidara. Rincian hukum dan tata caranya berbeda antarmazhab. Tanyakan kepada ustadz atau rujuk kitab fiqih mazhab yang kamu ikuti.